Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Tuntunan Shalat Tarawih

22 Jun 2014

Pengertian Shalat Tarawih

Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih) ialah shalat sunnat malam pada bulan Ramadhan.

Waktu Shalat Tarawih

Adapun waktunya ialah sesudah shalat ‘Isya hingga fajar (sebelum datang waktu Shubuh), sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

Artinya: “Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha isteri Nabi shallallahu alaihi wasallam (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu mengerjakan shalat (malam) pada waktu antara selesai shalat ‘Isya, yang disebut orang “‘atamah” hingga fajar, sebanyak sebelas rakaat.” [hadits riwayat Muslim].

Pelaksanaan Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih)

a. Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih) sebaiknya dikerjakan secara berjama‘ah, baik di masjid, mushalla, ataupun di rumah, dan dapat pula dikerjakan sendiri-sendiri.
Dasarnya adalah hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihin wasallam::
Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam shalat di masjid. Lalu shalatlah bersama shalatnya (berjamaah) sejumlah orang. Kemudian orang satu kabilah (dalam jumlah besar) juga ikut shalat, sehingga jumlah jamaah semakin banyak. Pada malam ketiga atau keempat, para jamaah telah berkumpul, namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar ke masjid menemui mereka. Ketika pagi tiba beliau berkata: “Aku sungguh telah melihat apa yang kalian lakukan (shalat tarawih berjamaah). Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, kecuali sesungguhnya aku takut, (kalian menganggap) shalat itu diwajibkan atas kalian.” Komentar Aisyiah: Hal itu terjadi di bulan Ramadan.” [Hadits riwayar Bukhari dan Muslim]
b. Apabila dikerjakan secara berjama‘ah, maka harus diatur dengan baik dan teratur, sehingga menimbulkan rasa khusyu‘ dan tenang serta khidmat; shaf laki-laki dewasa di bagian depan, anak-anak dibelakangnya, kemudian wanita di shaf paling belakang. Kalau perlu dapat diberi tabir, untuk menghindari saling memandang antara laki-laki dan wanita.
Dasarnya adalah hadis Nabi Muhammad
Artinya: “Dari Anas ibn Malik radhiyallahu anhu (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Saya mendirikan shalat di rumah saya bersama anak yatim di belakang Nabi shallallahu alaihi wasallam, sedang ibuku, Ummu Sulaim di belakang kami.” [Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah].
c. Qiyamu Ramadhan (Shalat Tarawih) dikerjakan antara lain dengan cara 4 raka‘at, 4 raka‘at tanpa tasyahud awal, dan 3 raka‘at witir tanpa tasyahud awal, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam :
Artinya: “Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ketika ia ditanya mengenai shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di bulan Ramadan. Aisyah menjawab: Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukan shalat sunnat di bulan Ramadan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana bagus dan indahnya. kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga rakaat.” [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim].
Sebelum mengerjakan Qiyamu Ramadhan, disunnatkan mengerjakan shalat sunnah dua raka‘at ringan (Shalat Iftitah), sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:
Artinya: “Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda: Jika salah satu di antara kamu mengerjakan qiyamullail, hendaklah ia membuka (mengerjakan) shalatnya dengan shalat dua rakaat ringan.” [Hadits riwayat Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud].
e. Shalat Iftitah dapat dikerjakan secara berjamaah sesuai dengan shalat tarawih yang sebaiknya dikerjakan secara berjamaah. Dasarnya adalah hadits Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:
Artinya: “Diriwayatkan dari Makhramah bin Sulaiman sesungguhnya Kuraib hamba ibnu Abbas telah menceritakan bahwa dirinya berkata: Saya bertanya kepada Ibnu Abbas, bagaimana shalat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada malam hari dimana saya bermalam di tempatnya sedang beliau (Rasulullah) berada di tempat Maimunah. Beliau tidur, lalu sampai waktu telah memasuki sepertiga malam atau setengahnya beliau bangun dan menuju ke griba (wadah air dari kulit) kemudian beliau berwudlu dan aku pun berwudlu bersama beliau, lalu beliau berdiri (untuk melakukan shalat) dan aku pun berdiri di sebelah kirinya, maka beliau menjadikan aku berada di sebelah kanannya, kemudian beliau meletakkan tangannya di atas kepalaku, seolah-olah beliau memegang telingaku, seolah-olah beliau membangunkanku, kemudian beliau shalat dua rakaat ringan-ringan, beliau membaca ummul Qur’an pada setiap rakaat, kemudian beliau mengucapkan salam sampai beliau shalat sebelas rakaat dengan witirnya, kemudian beliau tidur. Maka sahabat Bilal menghampirinya sambil berseru; waktu shalat wahai Rasulullah, lalu beliau bangkit (bangun dari tidurnya) dan shalat dua rakaat, kemudian memimpin shalat orang banyak.” [Hadits riwayat Abu Dawud, kitab Shalat, bab fi shalat al Lail, hadits no.1157]
f. Salat iftitah dilakukan dengan cara: pada rakaat pertama setelah takbiratul-ihram membaca doa iftitah “Subhanallah dzil malakuti wal jabaruti wal kibriya-i wal ‘adzamah” , kemudian membaca surat al Fatihah, dan pada rakaat kedua hanya membaca surat al Fatihah ( tanpa membaca surat lain). Dasarnya adalah hadis Nabi shallallahu alaihi wasallam:
Artinya: “Diriwayatkan dari Hudzaifah bin al Yaman ia berkata: Aku pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam Beliau mengambil wudlu kemudian shalat lalu aku menghampirinya dan berdiri di sebelah kirinya lalu aku ditempatkan di sebelah kanannya, kemudian beliau bertakbir dan membaca: Subhanallah dzil malakuti wal jabaruti wal kibriya-i wal ‘adzamah.” [Hadits riwayat ath Thabrani dalam kitab al Ausath dengan mengatakan bahwa perawinya orang terpecaya, juz 1: 107]
g. Bacaan surat yang dibaca setelah membaca Al Fatihah pada 3 raka‘at shalat witir, menurut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah sebagai berikut: Pada raka‘at pertama membaca surat Al A‘la, pada raka‘at kedua membaca surat Al Kafirun, dan pada raka‘at ketiga membaca surat Al Ikhlash.
Dalam hadits Nabi disebutkan sebagai berikut:
Artinya: “Dari Ubay bin Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pada shalat witir pada rakaat yang pertama selalu membaca Sabbihisma Rabbikal A‘la, dan pada rakaat yang kedua membaca Qul Ya Ayyuhal Kafirun, dan pada rakaat yang ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad.” [Hadits riwayat An Nasa’i, Tirmidzi, dan Ibnu Majah].
h. Setelah selesai 3 raka‘at shalat witir, disunnahkan membaca doa:
Berdasarkan hadis:
Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membaca Subhanal Malikil Quddus [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih]” [Hadits riwayat Abu Dawud].
Artinya: “Dari Ubayy Ibnu Ka‘ab (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melakukan witir dengan membaca Sabbihis marabbikal a‘la , qul ya ayyuhal kafirun dan qul huwallahu ahad; dan apabila selesai salam ia membaca Subhanal Malikil Quddus [Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih] tiga kali dan menyaringkan suaranya dengan yang ketiga, serta mengucapkan rabbul mala’ikati warruh [Tuhan Malaikat dan ruh]” [Hadits riwayat ath Thabarani, di dalam al Mu‘jam al Ausath].

Selengkapnya di Tuntunan Ibadah Ramadhan

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi