Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Doa untuk Calon Pemimpin

23 May 2014

Kesibukan kita membaca berita-berita politik telah banyak menyita waktu kita yang seharusnya kita thalabul ilmi (menuntut ilmu) atau melakukan hal yang bermanfaat kepada sesuatu yang sifatnya qila wa qala atau kabar burung.
Di tengah-tengah ramai dan hangatnya perbincangan tentang siapa pemimpin negara ini, ada beberapa point yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin di negeri yang kita cintai ini kecuali yang dirahmati Allah Ta'ala, yaitu sudahkah kita berdoa kepada Allah agar dianugerahi pimpinan yang baik??? Ataukah kita hanya sekedar mendambakan sosok pemimpin sementara tidak ada do'a kita dihadapan Rabbul 'Alamiin agar pemimpin yang diidam-idamkan tersebut adalah pemimpin yang memberikan kemaslahatan bagi kaum muslimin tanpa kita terpaku dengan sebuah sosok tertentu. Tetaplah kita bertawakkal kepada Allah dan jangan terlalu berlebihan dalam mengagungkan sosok tertentu. Berdoalah kepada Allah karena hanya Dia-lah yang paling tahu siapa pemimpin yang cocok bagi negeri kita ini. Cintailah seorang dan bencilah ala kadarnya jangan ekstrim dan berlebihan, bisa jadi orang yang kita benci akan menjadi orang yang kita cintai di masa yang akan datang atau juga sebaliknya.

Mendoakan para pemimpin adalah aqidah valid dari aqidah ahlus sunnah wal jama'ah..Fudlail bin ‘Iyyadl seorang Imam Ahlus Sunnah yang menetap di Makkah dan wafat pada tahun 187 H menyatakan :
لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلاَّ لِسُلْطَانٍ
Kalaulah aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan niscaya tidaklah aku peruntukkan kecuali untuk penguasa.”
Mendoakan kebaikan untuk para penguasa adalah suatu perkara yang sangat dijunjung tinggi oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, hingga Al Imam Al Barbahari rahimahullah menyatakan : “Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu (ahli bid’ah). Dan jika engkau mendengar seseorang mendoakan kebaikan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah, Insya Allah.” (Syarhus Sunnah halaman 116-117)
Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,
وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami." (Hadits riwayat Tirmidzi dalam Sunannya no. 3502, Nasai dalam 'Amal al Yaum wa al Lailah no. 402, Al Hakim 1/528, Al Baghawi no. 1374 dari hadits Ibnu Umar. Imam Tirmidzi mengatakan hasan Gharib.
Sudahkah kita baca doa ini???? Ataukah kita hanya bisa menyalahkan pemimpin kita sementara kita tidak pernah mendoakan mereka????
Mohonlah kepada Allah dari kejelekan oara penguasa...Ingatlah Pemimpin yang durhaka kepada Rabbnya dan bertindak zalim kepada rakyatnya menjadi sebab dihancurannya suatu negeri. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al Qur'an surah Al Isra’: 16).
Tidak lupa pula ikhwah sekalian.....menjelang pilpres ini banyak-banyaklah kita istighfar dosa-dosa dan kejelekan-kejelekan kita. Karena tidak lah Allah memberi kita pemimpin yang jelek, melainkan itu disebabkan dosa-dosa dan maksiat yang kita lakukan....Allah Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


Dan demikianlah kami jadikan sebagian orang yang zalim sebagai pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan amal yang mereka lakukan.” (Al Qur'an surah Al An’am: 129)
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya di antara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zholim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zholim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu’awiyah, Umar bin Abdul Azis, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah Ta’ala.” (Lihat Miftah Daaris Sa’adah, 2/177-178)
Pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu ada seseorang yang bertanya kepada beliau, “Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak?
Ali menjawab, “Karena pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi rakyatnya adalah aku dan sahabat lainnya. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah kalian.”
Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalahnya.
Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ


Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Al Qur'an surah Ar Ra’du : 11)
Sudahkah kita semua bertaubat dan meninggalkan berbagai bentuk maksiat dan kezhaliman hingga Allah datangkan pemimpin yang adil?


Sumber : Ustadz Hizbul Majid Al Jawi

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi