Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Sejarah Penulisan Bibel (4)

22 Apr 2014

PEMELIHARAAN
Namun untunglah, ada banyak orang tulus hati tidak mau mengikuti perintah-perintah tersebut. Tetapi itu berbahaya. Orang per orangan telah mengalami penderitaan yang hebat karena "kejahatan" memiliki Bibel.

Pertimbangkan, misalnya kasus seorang Spanyol yang bernama Julian Hernandez. Menurut History of Christian Martyrdom (sejarah martir-martir kristen) karangan Foxe, Julian atau Juliano berupaya membawa Bible dalam jumlah besar dari Jerman ke negerinya sendiri dengan menyembunyikannya dalam guci-guci, dikemas sseperti anggur putih Jerman (rhenis). Ia dikhianati dan ditangkap oleh Inkwisisi katolik Roma. Orang-orang untuk siapa Bibel itu dibawa semuanya disiksa tanpa pandang bulu dan kemudian kebanyakan dari antara mereka dihukum dengan berbagai cara.


Juliano dibakar, 20 orang dipanggang, beberapa dipenjarakan seumur hidup, beberapa dicambuk di hadapan umum, banyak yang dikirim untuk kerja paksa di kapal-kapal kuno.

Benar-benar penyalahgunaan kekuasaan yang mengerikan. Jelaslah, kalangan berwenang keagamaan ini sama sekali bukan wakil-wakil agama Kristen yang berdasarkan Bibel. Bibel sendiri mengungkapkan milik siapa mereka dengan berkata: "Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak iblis, setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barang siapa yang tidak mengasihi saudaranya. Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi bukan seperti Kain yang berasal dari si jahat dan membunuh adiknya" (1Yohanes 3:10-12)

Namun betapa menakjubkan, bahwa ada pria-pria dan wanita-wanita yang berbeda bersedia mengambil resiko diperlakukan begitu menyeramkan hanya agar dapat memiliki sebuah Bibel. Dan contoh-contoh semacam ini tiap kali berlipat ganda terus sampai ke jaman sekarang. Pengabdian yang dalam dibangkitkan oleh Bibel pada diri seseorang,kesedihan untuk menanggung penderitaan dengan sabar dan untuk menyerahkan diri tanpa keluhan kepada kematian yang mengerikan, tanpa membalas dendam pada para algojonya.

P E N U T U P
Akhirnya setelah pemberontakan golongan Protestan terhadap kekuasaan Katolik Roma pada abad ke 16 Gereja Katolik Roma sendiri terpaksa memproduksi terjemahan-terjemahan Bibel ke dalam bahasa-bahasa sehari-hari yang digunakan di Eropa. Namun bahkan pada waktu itu Bibel masih lebih banyak dikaitkan orang dengan paham Protestan dari pada paham katolik. Seperti yang ditulis oleh imam Katolik Roma Edward J. Cluba :

"Orang harus mengakui secara jujur bahwa salah satu akibat yang lebih tragis dari reformasi Protestan adalah diabaikannya Bibel di kalanganorang Katolik yang setia. Meskipun tidak pernah terlupakan sepenuhnya, Bibel adalah buku tertutup bagi kebanyakan orang Katolik."

Namun gereja-gereja Protestan tidak bebas dari kesalahan sehubungan dengan sikap menentang Bibel. Tahun demi tahun berlalu, beberapa sarjana Protestan melancarkan jenis kritik yang berbeda terhadap Bibel yaitu kritik intelektual. Selama abad ke 18 dan abad ke 19, mereka mengambangkan metode pelajaran Bibel kritik tinggi. Para Kritikus Bibel mengajarkan bahwa bagian dari Bibel terdiri dari legenda dan dongeng.

Bahkan ada yang berkata bahwa Yesus tidak pernah ada. Sebaliknya dari Bibel sebagai firman dari Allah, Para sarjana Protestan ini menyebut sebagai firman dari manusia dan selain itu firman yang sangat kacau.

Meskipun beberapa dari gagasan yang sangat extrim demikian tidak dipercayai orang, kritik terhadap Bibel masih tetap diajarkan di berbagai seminari dan bukan suatu hal yang janggal untuk mendengar banyak pendeta Protestan menyangkal bangak bagian dari Bibel di hadapan umum.

Ada seorang pendeta Anglikan yang kata-katanya pernah dikutip oleh sebuah surat kabar Australia, yaitu bahwa banyak hal dalam Bibel yang salah. Beberapa dari sejarahnya keliru dan rinciannya secara nyata kacau.

Namun mungkin tingkah laku umat Kristen itulah yang merupakan kendala terbesar bagi orang untuk menerima Bibel sebagai firman Allah. Umat kristen mengaku sebagai pengikut Bibel, namum tingkah lakunya telah menghasilkan celaan besar.

Misalnya ketika gereja melarang penerjemahan Bibel, Paus mensponsori serangan militer besar-besaran terhadap umat Islam di Timur Tengah. Serangan ini dinamakan "PerangSalib Suci" tetapi tidak ada sesuatupun yang suci padanya.

Pertama, yang dinamakan "Perang Suci Rakyat" menentukan apa yang masih akan menyusul. Sebelum meninggalkan Eropa, suatu pasukan tentara yang liar yang telah dihasut oleh para pengkotbah menyerang orang Yahudi di Jerman, membantai mereka dari kota yang satu ke kota lain. Mengapa orang Yahudi dibantai? Ahli sejarah Hans Eberhard Mayer berkata:

"Argumen bahwa orang Yahudi sebagai musuh Kristen, pantas dihukum hanya suatu upaya yang lemah untuk menutupi motif yang sebenarnya ketamakan."

Pemberontakan oleh kaum Protestan pada abad ke 16 telah menggulingkan kekuasaan Katolik Roma di banyak negara Eropa. Salah satu akibatnya adalah Perang Tiga Puluh Tahun (1618 – 1648) salah satu peperangan yang paling mengerikan dalam sejarah Eropa (baca Qs.5:64 ) menurut buku The Universal history of the World (Sejarah Dunia Secara Universal). Alasan mendasar dari perang tersebut adalah kebencian orang Katolik terhadap orang Protestan dan kebencian orang Protestan terhadap orang Katolik.

Menjelang waktu itu umat Kristen mulai mengembangkan kekuasaan keluar Eropa sambil membawa peradaban kristen ke bagian-bagian bumi yang lain. Expansi ini dicirikan oleh kekejaman dan ketamakan. Di negeri-negeri Amerika para penakluk Spanyol dengan cepat menghancurkan peradaban pribumi tanpa memperkenalkan peradaban Eropa. Haus akan emas merupakan morif utama yang menarik mereka ke dunia baru (Amerika).

Para missionaris Protestan juga pergi dari Eropa ke benua-benua lain. Salah satu hasil kerja mereka adalah dikembangkannya expansi kolonial. Dewasa ini pandangan yang meluas mengenai kegiatan missionaris Protestan adalah:

"Dalam banyak kejadian lembaga penginjilan telah digunakan untuk membenarkan dan menutupi maksud menguasai bangsa-bangsa. Hubungan timbal balik antar misi, teknologi dan imperalis sudah dikenal umum."

Hubungan yang erat antara agama-agama Kristen dan negara masih berlangsung sampai ke jaman sekarang. Kedua perang dunia yang terakhir terutama dipertarungkan antara bangsa Kristen dengan bangsa Kristen. Para pendeta dari kedua belah pihak mendorong pemuda-pemuda mereka untuk berkelahi dalam upaya membunuh sesama Kristen.

Seperti dinyatakan dalam buku If the Churches Want world Peace(Andaikata gereja-gereja menginginkan perdamaian dunia):

"Sudah pasti gereja-gereja tidak pantas dipuji atas berkembangnya sistem perang jaman sekarang yang telah mengakibatkan malapetaka terbesar di negeri-negeri yang mengabdi kepada cita-cita agama Kristen."

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi