Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Sejarah Penulisan Bibel (3)

21 Apr 2014

BAHASA

Bahasa-bahasa asli yang digunakan untuk menulis Bibel pada hakekatnya juga merupakan kendala terhadap kelangsungan hidupnya. ke 39 buku yang pertama kebanyakan ditulis dalam bahasa Ibrani, bahasa bangsa Israel. Namun bahasa Ibrani tidak pernah dikenal orang secara luas. Andaikata Bibel tetap dalam bahasa ini, pengaruhnya tidak pernah akan dapat melampaui lingkungan bangsa Yahudi dan sedikit bangsa lain yang dapat membacanya. Pada abad ke 3 SM, demi kepentingan orang-orang Ibrani yang tinggal di Alexandria Mesir, bagian Ibrani dari Bibel mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani pada waktu itu digunakan secara internasional. Dengan demikian Ibrani mudah di dapat oleh orang-orang bukan Yahudi.


Ketika saat menulis bagian kedua dari Bibel/Perjanjian Baru, bahasa Yunani masih tetap digunakan secara luas, sehingga ke 27 buku terakhir dari Bibel ditulis dalam bahasa Yunani. Tetapi tidak semua orang mengerti bahasa Yunani. Maka terjemahan bagian-bagian dari Bibel bahasa Ibrani maupun Yunani segera muncul dalam berbagai bahasa sehari-hari pada abad permulaan tersebut, seperti bahasa Siria,Koptik, Armenia, Georgia, Gotik dan Ethiopia. Bahasa resmi kekaisaran Roma dalam Latin dan terjemahan dalam bahasa ini dibuat dalam jumlah yang besar sehingga suatu versi resmi perlu dibentuk. Versi ini selesai kira-kira pada tahun 405 M dan dikenal sebagai versi Vulgate(yang berarti populer atau umumyang kemudian biasa disebut Katolik)

Jadi meski banyak kendala, Bibel tetap terpelihara sampai abad-abad permulaan tarikh masehi. Mereka yang memproduksinya adalah golongan minoritas yang dihina dan dikejar-kejar, hidup dengan susah payah dalam dunia yang memusuhi mereka. Perubahan isi dalam proses penyalinan memang mudah terjadi.

PERKEMBANGAN SELANJUTNYA

Begitu sulit bagi Bibel untuk mempertahankan hidupnya. Bibel sendiri berkata pada 1Yohanes 5:19: "Seluruh dunia berada dibawah kuasa iblis". Karena itu dapat diduga bahwa dunia akan memusuhi kebenaran yang disebarluaskan dan memang demikian kenyataannya.

Pada abad ke 4 tarikh masehi sesuatu terjadi yang berkembang menjadi serangan atas Bibel dan sangat mempengaruhi jalannya sejarah di Eropa. Sepuluh tahun setelah Diokletian berupaya melenyapkan semua salinan Bible, kebijaksanaan penguasa kerajaan berubah dan agama kristen disahkan. Dua belas tahunkemudian, tepatnya pada tahun 325 M, seorang kaisar Roma (Konstantin) menguasai konsili di Nicea. Pada jaman kaisar Konstantin itulah agama Kristen Katolik mulai terbentuk. Sejak waktu itu bentuk kekristenan yang telahmerosot dan yang telah berakar bukan lagi semata-mata suatu organisasi keagamaan. Tetapi menjadi bagian dari negara dan para peimpinnya memainkan peranan penting dalam bidang politik. Akhirnya gereja yang telah murtad menggunakan kekuasaan politiknya dengan cara bertentangan dengan agama Nasrani yang berdasarkan Bibel, sehingga menimbulkan ancaman lain terhadap Bibel.

Sewaktu bahasa Latin tidak lagi digunakan sebagai bahasa sehari-hari, Bibel perlu diterjemahkan lagi. Tetapi gereja Katolik tidak lagi menyetujui hal ini. Pada tahun 1079 Vratislaus yang kemudian menjadi raja Bohemia meminta izin PausGregorius VII untuk menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa yang digunakan rakyatnya. Permintaannya ditolak.

Paus berkata:
"Sudah jelas bagi mereka yang sering merenungkannnya, bahwa bukannya tanpa alasan mengapa Allah Yang Maha Kuasa lebih suka agar bagian-bagian tertentu dari kitab suci tetap suatu rahasia, karena jika semua orang dapat mengerti dengan jelas, ada kemungkinan alkitab akan diremehkan dan tidak dihargai, atau mungkin akan disalah mengertikan oleh mereka yang berpendidikan sederhana sehingga menghasilkan kekeliruan”.

Paus menghendaki agar Alkitab tetap dipertahankan dalam bahasa Latin yang ketika itu sudah menjadi bahasa mati. Isinya harus dijaga tetap rahasia, tidakditerjemahkan ke dalam bahasa-bahasa rakyat biasa. Terjemahan Vulgate karya Jerome dalam bahasa Latin yang dibuat pada abad ke 5 dengan tujuan agar Bibel dapat dibaca oleh semua orang, kini menjadi alat untuk membuat Bibel tetap suatu rahasia.

Abad-abad pertengahan berlanjut terus, sikap gereja terhadap Bibel dalam bahasa daerah menjadi semakin keras. Pada tahun 1199 Paus Innonent III menulis surat yang demikian keras kepada uskup agung dari Metz, Jerman, sehingga uskup itu membakar semua Bibel bahasa Jerman yang dapat ia temukan.

Pada tahun 1229 sinode di Toulouse Perancis menyatakan bahwa rakyat awam tidak boleh memiliki buku Bibel manapun dalam bahasa sehari-hari.

Pada tahun 1233 suatu sinode propinsi di Tarragona Spanyol memerintahkan agar semua buku Perjanjian Lama atau Baru diserahkan untukdibakar.

Pada tahun 1407 sinode golongan pendeta yang diadakan oleh Uskup Agung Thomas Arundel di Oxford Inggris secara tegas melarang menerjemahkan Bibel ke dalam bahasa Inggris dan untuk memiliki terjemahan demikian.

Kalangan berwenang keagamaan ini tidak berupaya memusnahkan Bibel. Mereka mencoba menjadikannya sebagai fosil, mempertahankannya dalam bahasa yang dapat dibaca oleh sedikit orang saja. Dengan apa yang mereka sebut bid'ah tetapi yang sebenarnya merupakan tantangan terhadap wewenang mereka. Andaikata mereka berhasil, Bibel bisa saja menjadi sekedar suatu proyek yang menarik secara intelektual dengan sedikit atau sama sekali tanpa pengaruh atas kehidupan rakyat biasa.


Sumber : Ustadz Kodiran Salim

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi