Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Sejarah Penulisan BIbel (2)

20 Apr 2014

PENYALINAN
Banyak diantara karya zaman dulu yang kemudian dilupakan orang, diukir diatas bat uatau dicetak pada lempengan tanah liat yang tahan lama. Tidak demikian halnya dengan Bibel. Isinya mula-mula ditulis pada lembaran papirus atau kulit binatang bahan yang mudah rapuh. Maka manuskrip-manuskrip yang dibuat oleh para penulis yang semula, sudah lenyap. Kemudian banyak salinan tangan yang tak terhitung banyaknya telah dibuat. Cara ini biasa digunakan untuk memperbanyak buku sebelum munculnya tehnik percetakan.

Namun ada bahaya dalam pembuatan salinan dengan tangan. Sir Frederic Kenyon, arkeolog dan pustakawan terkenal dari British Museum menjelaskan:


"Belum ada otak dan tangan manusia sanggup menyalin seluruh karya yang panjang tanpa salah sedikitpun.... Sudah pasti ada kekeliruan.".

Bila ada kesalahan yang masuk ke dalam suatu manuskrip, kekeliruan tersebut akan terulang lagi pada waktu manuskrip tersebut menjadi dasar untuk salinan selanjutnya. Jika salinan dibuat selama jangka waktu yang panjang, maka akan ada banyak sekali kekeliruan karena tangan manusia. Mengingat sekian ribu Bibel yang telah dibuat, bagaimana tahu bahwa proses reproduksi ini tidak mengubah isinya sehingga tidak dapat dikenali lagi.

Contoh pada Perjanjian Lama. Pada abad ke 6 SM ketika orang Yahudi kembali dari pembuangan di Babel, sekelompok sarjana Ibrani yang dikenal sebagai Soferim "jurutulis" menjadi pemelihara naskah Bibel Ibrani dan mereka mendapat tanggung jawab menyalin kitab-kitab tersebut untuk digunakan dalam ibadat yang bermotiasi tinggi, profesional dan pekerjaan mereka bermutu tinggi.

Mulai abad ke 7 M sampai ke 10 M kelompok Masoret menjadi ahlil waris kaum Soferim. Nama mereka berasal dari kata Ibrani yang berarti "tradisi" dan pada dasarnya mereka juga juru tulis yang telah ditugaskan untuk memelihara naskah Ibrani tradisional. Kaum Masoret sangat teliti, misalnya mereka harus menggunakan salinan yang telah disahkan dengan sepatutnya sebagai naskah induk dan mereka tidak diperkenankan menulis sesuatu di luar kepala. Mereka harus memeriksa setiap huruf sebelum ditulis.

ProfesorNorman K. Gottwald : "Suatu petunjuk mengenai sikap hati-hati dalam menjalankan tugas mereka nyata dari persyaratan golongan 'rabi' bahwa semua manuskrip baru harus dibaca ulang untuk diperiksa dan salinan yang keliru harus dibuang".

Seberapa telitikah penyalinan naskah oleh kaum Soferim dan kaum Masoret? Pada tahun 1947 beberapa potongan manuskrip Ibrani berasal dari abad 10 M telah ditemukan di dalam gua-gua dekat Laut Mati, termasuk beberapa bagian dari Bibel Ibrani. Sejumlah potongan berasal dari jaman sebelum Yesus. Para sarjana membandingkan ini dengan manuskrip-manuskrip Ibrani yang ada untuk memastikan seberapa teliti penyalinan naskah tersebut.

Salah satu karya tertua yang ditemukan adalah buku Yesaya yang lengkap, ada kemiripan naskahnya dengan Bibel hasil salinan kaum Masoret. Profesor Millar Burrows menulis; "Banyak dari perbedaan yang terdapat antara gulungan Yesaya dari Santo Markus (yang juga ditemukan belum lama ini) dengan naskah hasil salinan kaum Masoret dapat dijelaskan sebagai kesalahan dalam penyalinan. Di luar itu ada persamaan secara menyeluruh dengan naskah yang terdapat dalam manuskrip-manuskrip abad pertengahan. Persamaan demikian dalam manuskrip yang jauh lebih tua memberi bukti bahwa naskah tradisional itu secara umum memang teliti". Burrows menambahkan:".....setelah melewati jangka waktu kira-kira 1000 tahun, naskah tersebut mengalami sedikit perubahan."

Sehubungan dengan bagian Bibel yang ditulis dalam bahasa Yunani oleh umat Nasrani (Perjanjian Baru) para penyalinnya lebih dapat dianggap sebagai amatir bila dibandingkan dengan para Soferim yang profesional dan sangat terlatih. Namun meskipun dibawah ancaman hukuman oleh penguasa, mereka mengerjakan tugas mereka. Dan ada dua segi yang menjamin bahwa naskah yang ada sekarang pada dasarnya sama dengan buah tangan para penulis yang mula-mula. Pertama, berbagai manuskrip yang umurnya jauh lebih dekat dengan penulisannya dari pada apa yang dapat diperoleh pada bagian Ibrani. Kedua, jumlah manuskrip yang masih ada sampai sekarang merupakan petunjuk yang sangat kuat akan keabsahan naskahnya.

Sumber : Ustadz Kodiran Salim

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi