Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Fatwa MUI Standar Halal Penyembelihan

13 Mar 2014

FATWA MUI TENTANG STANDAR PENYEMBELIHAN HALAL
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 15 Dzulhijjah 1430 H atau 2 Desember 2009 M, menetapkan fatwa nomor 12 tahun 2009 tentang standar penyembelihan halal sebagai berikut.

Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan
  1. Penyembelihan adalah penyembelihan hewansesuai dengan ketentuan hukum Islam.

  2. Pengolahan adalah proses yang dilakukan terhaddap hewan yang telah disembelih, yang meliputi antara lain pengulitan, pencincangan, dan pemotongan daging.
  3. Stunning adalah suatu cara melemahkan hewan melalui pemingsanan sebelum pelaksanaan penyembelihan agar pada waktu disembelih hewan tidak banyak bergerak.
  4. Gagal penyembelihan adalah hewan yang disembelih dengan tidak memenuhi standar penyembelihan halal.

Ketentuan Hukum

Standar Hewan yang disembelih

  1. Hewan yang disembelih adalah hewan yang boleh dimakan.
  2. Hewan harus dalam keadaan hidup ketika disembelih.
  3. Kondisi hewan harus memenuhi standar kesehatan hewan yang ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan.

Standar Penyembelih

  1. Beragama Islam dan sudah akil baligh.
  2. Memahami tata cara penyembelihan secara syar'i.
  3. Memiliki keahlian dalam penyembelihan.

Standar Alat Penyembelihan

  1. Alat penyembelihan harus tajam.
  2. Alat dimaksud bukan kuku, gigi/taring, atau tulang.

Standar Proses Penyembelihan

  1. Penyembelihan dilaksanakan dengan niat menyembelih dan menyebut asma Allah.
  2. Penyembelihan dilakukan dengan mengalirkan darah melalui pemotongan saluran makanan (mar'i/esophagus), saluran pernafasan/tenggorokan (hulqum/trachea) dan dua pebuluh darah (wadajain/vena jugularis dan arteri carotis).
  3. Penyembelihan dilakukan dengan satu kali dan secara cepat.
  4. Memastikan adanya aliran darah dan/atau gerakan hewan sebagai tanda hidupnya hewan (hayan mustaqirrah).
  5. Memastikan matinya hewan disebabkan oleh penyembelihan tersebut.

Standar Pengolahan, Penyimpanan, dan Pengiriman

  1. Pengolahan dilakukan setelah hewan dalam keadaan mati oleh sebab penyembelihan.
  2. Hewan yang gagal penyembelihan harus dipisahkan.
  3. Penyimpanan dilakukan secara terpisah antara yang halal dan nonhalal.
  4. Dalam proses pengiriman daging, harus ada informasi dan jaminan mengenai status kehalalannya, mulai dari penyiapan (seperti pengepakan dan pemasukan ke dalam kontainer), pengangkutan (seperti pengapalan/shipping), hingga penerimaan.
Unduh fatwa lengkapnya di sini.

Fakta, kita hidup di negara rawan bencana. Dan hari ini kita saksikan berbagai bencana telah melanda. Hanya ada dua pilihan: menyerah pada kenyataan atau maju mengambil peran dalam kesiagaan. Dukung dan bergabung bersama kami dalam gerakan ‪‎INDONESIA SIAGA‬ ! Salurkan Donasi Kemanusiaan Anda melalui Lazis Muhammadiyah BCA No. 8780 171 171 MANDIRI No. 123 00 99 00 8999 BNI SYARIAH No. 00 915 39 444 BRI SYARIAH No. 2020 191 222

Like Facebook Laskar Informasi | Follow Twitter Laskar Informasi