Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Diskusi Ilmiyyah Ustadz Firanda dan Idrus Ramli

29 Dec 2013


Alhamdulillah pada hari sabtu 28 Desember 2013 di Batam berlangsung diskusi antara Ustadz Firanda Andirja dan Ustadz Zainal Abidin dengan Ustadz Muhammad Idrus Ramli dan Ustadz/Kiai Thobary Syadzily. Diskusi ini digelar dalam acara Dialog Ukhuwah dan Ilmiyah dengan tema Menjalin Kebersamaan dalam Perbedaan, diselenggarakan di Ruang Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam.
Diskusi menghadirkan narasumber dari dua kubu yang selama ini terkesan memiliki pandangan saling bertolak belakang.
Pihak pertama mewakili mereka yang biasa disebut sebagai golongan wahhaby atau salafy, dan pihak kedua mewakili mereka yang menamakan diri sebagai ahlus sunnah wal jama'ah (aswaja). Narasumber pihak pertama adalah Ustadz Firanda Andirja dan Ustadz Zainal Abidin, sedangkan pihak kedua adalah Ustadz Muhammad Idrus Ramli dan Kiai Thobary Syadzily. Topik yang dibahas adalah pengertian bid'ah, hukum melafalkan niat shalat dan qunut shalat shubuh, serta hukum tahlilan, yasinan dan doa bersama. Topik dikaji tidak hanya dari ilmu fiqh, tapi juga ilmu hadits, balaghah, ushul fiqh, qawa'idul fiqh. Pendapat yang dikemukakan tidak dari pendapat pribadi, tetapi dari kitab-kitab Syafi'iyah dan pendapat para ulama seperti Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Ibnu Katsir, Syaikh Ibnu Taymiyyah, Ibnul Jauzy, Syaikh Utsaimin, dll.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari diskusi ini, antara lain:
  1. Dalam berbuat, berbicara, apalagi tentang agama, harus ilmiyyah, berdasarkan dalil/nash yang bisa diterima syari'at, tidak boleh asal njeplak! Apalagi dusta!
  2. Semangat menuntut ilmu harus terus digelorakan tak pandang umur dan status.
  3. Ilmu sangat banyak, untuk ilmu agama saja ada ilmu fiqh, aqidah, ushul fiqh, qawa'id,balaghah, ilmu hadits, tafsir, dll.
  4. Ilmu yang kita miliki masih jauh lebih sedikit daripada ilmu Allah, pantaskah kita sombong?
  5. Berbicara, walaupun kepada orang yang tidak sependapat atau mungkin tidak disenangi, tetap dengan kelembutan. Boleh tegas tapi hindari caci maki.
  6. Toleransi adalah pada masalah-masalah furu'iyyah yang secara fiqh memang terjadi khilafiyah/perbedaan pendapat di kalangan ulama (ulama salaf).
  7. Harus berhati-hati saat melakukan inovasi dalam agama. Kreatif boleh, tapi tetap perhatikan Al Qur'an dan hadits. Jangan mentang-mentang menurut kita itu baik, lantas kita lakukan itu. Perhatikan juga apakah ijma' ulama melarang atau tidak pembaruan tersebut.
  8. Melafalkan niat shalat dan membaca qunut shubuh termasuk khilafiyah yang sama-sama berdasarkan dalil yang bisa diterima secara syari'at. Boleh tidak mengucapkan “ushalli fardhal shubhi....” tetapi hanya menyebutnya di hati saja. Tapi bagi yang lebih mantap mengucapkannya juga silahkan. Begitu juga dengan qunut shubuh. Kalau dalam shalat jama'ah imam baca qunut ya ma'mum baca qunut, kalau imam tidak baca qunut ya ma'mumnya tidak usah baca qunut.
  9. Sejarah tahlilan berawal dari kebiasaan masyarakat Jawa yang berkumpul di rumah keluarga almarhum/almarhumah. Pemikiran Walisongo, daripada masyarakat hanya kumpul-kumpul tidak jelas, lebih baik dimanfaatkan untuk dakwah. Masyarakat diajak ngaji, diajari baca Al Qur'an dan dzikir.
  10. Hukum tahlilan adalah makruh, tidak sampai haram juga tidak diwajibkan.
  11. Mayoritas praktik tahlilan selama ini keliru. Ahli waris atau keluarga almarhum/almarhumah menyediakan makanan atau sedekah bagi para pelayat atau pentahlil. Padahal seharusnya, tetangga dan pelayat lah yang memberikan makanan atau sedekah kepada ahli waris. Kasihan ahli waris, sudah jatuh tertimpa tangga. Ditinggal mati keluarga tentu merasa sedih, malah ditambah bebannya dengan mengadakan tahlilan dan menyediakan hidangan kepada para pelayat.
  12. Cinta kepada Al Qur'an bisa mengantarkan ke surga.
  13. Bersikap ksatria, tidak segan meminta maaf jika berbuat kesalahan dan memperbaiki kesalahan.
  14. Taat kepada ulil amri atau pemerintah. Diskusi ini digelar oleh Kementerian Agama yang merupakan bagian dari pemerintahan.
  15. Memenuhi hak sesama muslim, salah satunya menghadiri undangan darinya. Kementerian Agama Kota Batam, struktur pemerintahan yang mengurusi umat Islam dan banyak beranggotakan kaum muslimin, juga kepalanya adalah seorang muslim, mengundang kedua belah pihak dan para pendukungnya untuk bermudzakarah/diskusi ilmiyyah.
  16. Mengelola kegiatan dengan sebaik-baiknya. Dipersiapkan secara matang dan segera selesaikan masalah yang muncul.
  17. Tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Menjalin ukhuwah sesama muslim.
  18. Waspada pada musuh-musuh Islam seperti sekulerisme, pluralisme, liberalisme (sepilis), dan syi'ah yang semakin mengkhawatirkan.
  19. Perlunya tabayyun, konfirmasi, klarifikasi, crosscheck, pencocokan berita yang didengar dengan yang disampaikan sumber aslinya.
  20. Jangan asal mengatakan amalan itu bid'ah atau syirik kalau kita tidak punya dalil.
  21. Harus berlapang dada menerima kritikan amalan ini bid'ah itu syirik kalau yang mengkritik memiliki hujjah/dalil atau juga kita yang dikritik tidak tahu dalil syar'i yang membolehkan amalan tersebut.
  22. Tradisi yang baik dan sesuai sunnah bisa diteruskan, tetapi yang bertentangan dengan Al Qur'an dan hadits harus ditinggalkan.
  23. Dakwah itu beresiko. Dalam usahanya mengingkari kemunkaran, da'i,ustadz,kiai harus siap menerima celaan, caci maki, hujatan, dikucilkan, dan perlakuan tidak mengenakkan dari masyarakat.
  24. Ikutilah orang karena dia benar. Kenalilah kebenaran, maka kita akan kenal siapa yang benar.
  25. Bisa jadi kita tidak suka pada seseorang, tapi hendaklah tetap bersikap adil kepadanya. Kalau dia yang benar (sesuai Al Qur'an dan hadits) atau setidak-tidaknya dia lebih dekat kebenaran daripada kita, maka kita harus berlapang dada untuk rujuk kepadanya. Jangan malah menebar fitnah!
  26. Majelis ilmu dan orang yang berilmu, apalagi ilmu agama, memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Dengarkan apa yang disampaikan alim ulama.
  27. Hentikan celaan pada sesama muslim. Tidak pantas terucap kata-kata seperti hai kafir, wahbabi (menyamakan wahhaby dengan -maaf- babi), wahahihi (mengatakan wahhaby hanya bisa haha hihi dan membuat haha hihi/tertawa karena dianggap lucu suka mengatakan bid'ah, syirik), otak cingkrang (mengatakan wahhaby pemikirannya pendek, dikit-dikit bilang bid'ah), salahfikir (mengatakan salafy mempunyai pikiran yang salah; tahlilan, yasinan, dikatakan bid'ah), abwaja (mengatakan aswaja lebih tepatnya nahdliyin sebagai ahlul bid'ah wal jama'ah), asuwaja (mengatakan aswaja sebagai -maaf- asu atau anjing), dan ucapan sejenisnya.
Berikut adalah rekaman video diskusinya: