Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Hukum Khutbah Nikah

30 Nov 2013


Tanya :
Hukum khutbah nikah, itu wajib atau sunnah? Materi khutbah apakah berupa kajian tentang pernikahan atau bagaimana? 

Jawab :

Ibnu Qudamah Al Maqdisy dalam Al Mughny mengatakan : Sunnah hukumnya melakukan khutbah nikah bagi yang mau melakukan aqad nikah atau yang lainnya, sebelum melakukan aqad. Dan setelah itu baru melakukan aqad nikah.


Berdasarkan sabda Nabi shallallaahu’alaihi wasallam : “ Semua perkara yang penting dan tidak diawali dengan membaca Al hamdulillah, maka itu terputus….." dan mencukupi hal itu dengan memuji kepada Allah ta’ala, membaca syahadat dan sholawat serta salam kepada Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam. Dan disunnahkan untuk membaca khutbahnya Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu yang mengatakan : Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam mengajari kami tasyahud dalam sholat dan tasyahud dalam khutbatul hajah, yakni :

إن الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله ، وأن محمدا عبده ورسوله ، ويقرأ ثلاث آيات: اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ{آل عمران: 102}. و: اتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً (النساء: 1) و: اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ .

(Hadits riwayat Abu Daud dan Tirmidzi, beliau mengatakan : hadits hasan)

Berkata Al Khalal : telah menceritakan kepada kami Abu Sulaiman Imam Tharasus bahwa Imam Ahmad ketika menghadiri aqad nikah kemudian tidak berkhutbah dengan khutbahnya Abdullah bin Mas’ud maka beliau berdiri dan pergi meninggalkan mereka. Ini adalah dari Abu Abdillah (yakni : Imam Ahmad) karena beliau sangat menguatkan akan sunnahnya bukan mewajibkannya.

Dan disunnahkan untuk berkhutbah satu kali yang dilakukan oleh walinya, atau (calon) suami atau yang lainnya. Imam Syafi’I berkata : Sunnahnya dua kali khutbah, ini yang kami sebutkan diawalnya kemudian khutbah dari (calon) suami sebelum mengucapkan qabulnya. Dan yang dinukil dari Nabi shallallaahu’alaihi wasallam dan dari salaf adalah satu kali khutbah, dan ini lebih utama untuk diikuti. Dan khutbah itu tidak wajib menurut para ulama yang kami ketahui kecuali dari Daud (Addhahiri), maka beliau mewajibkannya.

Demikianlah yang dimaksud dengan khutbatul hajah yang masyhur yang dibaca ketika melakukan aqad nikah.

Adapun jika yang dimaksudkan adalah memberi taushiyah setelah aqad nikah, maka hal ini adalah sesuatu yang baik, memanfaatkan berkumpulnya kaum muslimin untuk diingatkan dengan perkara agamanya khususnya masalah hubungan rumah tangga, sekaligus mengingatkan kepada mempelai berdua dengan sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam agar dalam mengawali biduk rumah tangganya dibangun dengan dasar-dasar agama. Wallaahu ta’ala a’lam.

Pertanyaan dijawab oleh Ustadz Muhammad Na'im.