Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

KH Hasan Basri pun Menolak Syi'ah

26 Nov 2013


 KH Hasan Basri, Ketua Umum MUI Pusat 1985-1998 bersikap sama seperti KH Hasyim Asy'ari, Prof HAMKA, dan M Natsir yaitu menolak syi'ah! Berikut pandangan beliau tentang syi'ah yang kami nukil dari Buku Panduan terbitan Majelis Ulama Indonesia, Panduan Majelis Ulama Indonesia Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia.
Adapun masalah syi'ah yang pada hari ini diseminarkan, Alhamdulillah pada tahun 1933 bulan Apri, ulama-ulama Indonesia diundang berkumpul di Brunei Darussalam. Dari Malaysia, dari Singapura dari Indonesia dan Brunei tuan rumahnya. Dari Indonesia yang saya ingat, kita menyusun suatu delegasi yang cukup kuat waktu itu, termasuk Rais Aam NU, KH Ilyas Ruhiyat, Alm. KH Azhar Basyir,
Ketua Umum Muhammadiyah dari Yogya, beliau masih hidup waktu itu, saya sendiri dari Majelis Ulama. Kita berkumpul di sana, bersama seluruh ulama dari Malaysia, Singapura dan Brunei. Kita mengadakan seminar, namanya seminar Aqidah. Ini bukunya, masih saya simpan. Jadi, semua berikrar pada waktu itu, delegasi dari empat negara, bahwa kita harus menyelamatkan kawasan tanah air kitaini, dari aqidah menyimpang. Ada dua keputusan waktu itu, ijma'nya ulama empat negara ini. Yang pertama, kita ini Sunni, Ahlussunnah wal Jamah. Baik Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, adalah Sunni. Kita bukan syi'i, itu jelas. Itu ikrar kita, pada waktu itu bersama-sama dalam seminar itu. Kemudian yang kedua adalah mazhab dalam fiqih. Semua sepakat pada waktu itu, mazhab kita mazhab Syafi'i, namun diizinkan untuk pindah dari Syafi'i, tetapi tidak keluar dari salah satu mazhab yang empat. Itu keputusan di Brunei. Saya kira ikrar ulama-ulama kita ini penting. Sebab yang hadir adalah ulama-ulama yang membawa aspirasi ummat seluruh tanah air dari empat negara, baik Malaysia, baik Brunei.
Brunei, sebagai negara kecil, dia ketat sekali menjaga tentang syi'ah ini. Dia jaga di imigrasi. Kalau masuk Brunei kalau dia curiga apa orang itu syi'ah, apa ahmadiyah, ia akan ditolak di imigrasi dan hari itu juga akan dikeluarkan dia, dikembalikan dia, tidak terima dia masuk ke dalam negeri Brunei. Praktek ini dilakukan di Brunei. Mereka hanya negara kecil, begitu, orangnya sedikit, tapi punya banyak uang. Jadi, dia dapat menyelenggarakan ini dengan baik. Kita belum sampai ke sana. Di imigrasi tidak ditanya apa mazhab saudara, apakah syi'ah apakah sunni, belum lagi itu, paling-paling yang ditanya: “Bawa ekstasi atau narkotik?”
Kalau dari segi ajaran bahaya syi'ah melebihi ekstasi dan narkotik. Sebab dia meracuni aqidah. Kalau ekstasi dan narkotk dia meracuni fisik, ifisk manusia. Tapi kalau aqidah diracuni, itu sangat berbahaya sekali bagi manusia. Majelis Ulama pernah memutuskan bahwa aqidah syi'ah ini tidak benar. Kemudian kita didatangi duta-duta besar dari mana-mana. Yang satu mendukung kita, bagus sekali. Tapi satu duta besar yang datang: “kenapa kok tidak menyetujui syi'ah?”. Saya katakan: “Kami menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan umat kami”.
Itu yang diputuskan Majelis Ulama. Jadi jangan dibawa-bawa masalah politik apalagi politik negara ini masing-masing ada masalah. Jadi jangan dibawa-bawa. Murni kita pada hari ini, secara ilmiah, membicarakan syi;ah ini, dengan kepala dingin. Tunjukkan. (Mengapa Kita Menolak Syi'ah, 21 September 1997).
Sumber : Majelis Ulama Indonesia, Panduan Majelis Ulama Indonesia Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia.