Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pendidikan Keamanan Informasi ITB

23 Nov 2013


Sebagai salah satu perguruan tinggi terkait dengan teknologi informasi, Institut Teknologi Bandung telah lama dikenal sebagai pabrik untuk menghasilkan sumber daya manusia bidang teknologi untuk Indonesia. Institut yang memiliki akreditasi internasional ini, sedang mencanangkan proyek besar guna mencetak praktisi teknologi informasi, khususnya pada konsentrasi keamanan informasi.
Berawal dari kegelisahan perkembangan keamanan informasi negara ini, yang masih rentan terhadap ancaman gangguan baik dari dalam negeri maupun pihak luar, dan ditambah lagi dengan kekhawatiran kurangnya sumber daya yang memiliki kemampuan berstandar tinggi guna mengamankan sistem keamanan informasi di Indonesia, sebelumnya disampaikan oleh
Ir. Yudi Satria Gondo karyono, M.Sc, Ph.D, yang menjabat sebagai Ketua Program Magister Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB, “secara historis masalah keamanan informasi sudah sejak lama diminati oleh beberapa praktisi akademisi di ITB sendiri dan banyaknya permintaan dari pemerintah”. ITB approach korea untuk program ini Selain itu diungkapkan juga oleh Yudi, sejak tahun 2009 ada pembicaraan terkait akan adanya kerjasama dengan negara Korea Selatan. Dengan latar belakang tersebut, maka muncullah ide untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan keamanan informasi dengan mengajukan proposal kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk membuka program studi keamanan informasi. Dari latar belakang yang diungkapkan oleh ITB, program studi keamanan informasi ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan- kebutuhan yang ada di Indonesia, sebab perkembangan keamanan informasi bersifat dinamis, dan selama ini kecukupan tenaga-tenaga ahli bidang ini dirasakan sangat kurang. Target utama yang menjadi perhatian program studi keamanan informasi dikelompokkan menjadi 2 fokus jurusan. Yang pertama adalah fokus teknis, karena saat ini penguasaan masalah teknologi keamanan informasi di Indonesia cukup memprihatinkan, sehingga diharapkan akan ada lulusan, yang dapat mengikuti perkembangan dan menguasai teknologi keamanan informasi secara berkelanjutan.
Selain fokus jurusan teknis, program ini juga membidik pada pihak-pihak pengambil keputusan dalam bidang keamanan informasi, atau dikategorikan dalam level manajemen, sebab level ini mempengaruhi pertumbuhan keamanan informasi Indonesia dalam bentuk regulasi, kebijakan dan hal lain yang berkaitan.
Demi menjamin kualitas lulusan keamanan informasi ini ITB sendiri melakukan kerjasama dengan beberapa pihak, di dalam negeri sendiri ITB menggandeng institusi pendidikan lain dalam rangka pemenuhan standar lulusan, salah satunya adalah bidang hukum, kerjasama tenaga pendidik yang akan dilakukan dengan Univer-sitas Padjadjaran, Bandung. Untuk bidang teknik, kerjasama tenaga pendidik dilakukan dengan banyak pihak . “Untuk bidang yang sangat teknikal kami juga punya teman-teman di Underground, selain itu ada juga organisasi seperti ID-SIRTII serta TNI yang membantu” ungkap Yudi
Hubungan kerjasama dengan pemerintah untuk mewujudkan program studi ini pun, tak kalah giat dilakukan oleh ITB. Pendekatan-pendekatan baik secara langsung dan tidak langsung terhadap pemerintah telah berhasil dilakukan ITB, sehingga program studi ini dapat terlaksana. Dijelaskan terkait dengan program tersebut, pemerintah sendiri telah melakukan arahan yang mendukung terkait bidang keamanan informasi, dan akan dikoordinasikan oleh Menkopolhukam yang nantinya dari program ini akan tercipta kerjasama yang harmonis, khususnya untuk bidang keamanan cyber Indonesia.
Selain dengan institusi dalam negeri, ITB juga melakukan kolaborasi dengan akademisi dari luar negeri khususnya dengan Korea Selatan. Ditemui pada tempat kerjanya (Sarwono) sebagai salah satu penggerak yang terlibat langsung dalam mendirikan program keamanan informasi, menyampaikan bahwa ITB telah melakukan kerjasama demi pengembangan program studi tersebut dengan menggandeng tenaga ahli Korea Selatan. Selain kerjasama berbentuk penyediaan tenaga ahli, ITB juga mendapatkan dana hibah sebesar 5,5 juta dolar AS dari Korea International Cooperation Agency (KOICA). Untuk pusat penelitian kerjasama antara ITB dan KOICA, yang akan berada di bawah naungan STEI-ITB, diungkapkan oleh Dr. Ing. Ir. Sarwono Sutikno, “Mereka telah memberikan kami bantuan gedung dan peralatan, yang akan berpusat dan dijalankan dalam bentuk kerjasama yang dinamakan Cyber Security Center ITB-KOICA. “Ditambahkan lagi untuk fasilitas gedung direncanakan rampung pada bulan November tahun ini. Terkait kerjasama dengan Korea Selatan, terdapat juga program khusus dalam konteks penelitian, diungkapkan bahwa terdapat 10 mahasiswa ITB yang melakukan pelatihan di Korea Selatan dalam rangka penelitian bidang keamanan informasi.
Pada waktu yang sama juga dijelaskan oleh salah satu tenaga ahli asal Korea Selatan, yang terlibat dengan kerjasama ini, Prof. Kwangjo Kim, yang pernah menjabat sebagai President Korean Institute of Information Security (KIIS) tahun 2009 dan kini sebabagai tenaga pengajar di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Ia mengungkapkan banyak hal terkait latar belakang dan bentuk kerjasama antara ITB dan KOICA. “This is a UN programs ODA (Overseas Development Aid)” ungkap Kim. Terkait alasan mengapa Korea Selatan memilih Indonesia sebagai negara penerima program PBB, Kim mengatakan, “other country in south eastern area are not ready to run this program”. Sedangkan acuan bahan ajar yang akan diangkat pada program ini, Kim mengatakan bahwa akan lebih banyak membagi pengetahuan yang diperolehnya baik sisi teknis dan manajemen, dalam pengalamannya selama menjadi akademisi terkait bidang keamanan informasi ini.
Dalam kerjasama ini pihak Korea Selatan melalui Kim, menyampaikan harapan yang besar bahwa kerjasama ini nantinya akan menjadi contoh yang baik untuk negara lain. Dan juga diharapkan nantinya lulusan dari program ini akan dapat memberikan kontribusi yang besar dalam bidang keamanan informasi di Indonesia. Jurusan keamanan informasi yang direncanakan berjalan di bawah STEI ini akan dilaksanakan pada Agustus 2013 ini. Sementara ini pendaftaran mahasiswa dilakukan melalui program beasiswa magister yang disebut dengan “FastTrack”. Yaitu program percepatan bagi mahasiswa sarjana ITB yang digabungkan langsung dengan program pascasarjana sehingga masa pendidikan hanya 5 tahun untuk menyelesaikan sarjana dan program magister sekaligus. Program beasiswa lainnya adalah program Kemendikbud yang akan dibuka pada semester berikutnya yaitu berkisar Januari 2014. Masa studi program keamanan informasi akan dilaksakan dengan jangka waktu 18 bulan atau 3 semester.
Sementara itu untuk acuan atau kurikulum yang akan digunakan oleh ITB sebagai bahan ajar pada program magister keamanan informasi ini nantinya akan menggabungkan sisi teknik dan manajemen. Dimana akan menyelaraskan dengan sertifikasi dan re-gulasi yang berkembang, selain hal tersebut ITB juga akan melihat referensi-referensi lain, misalnya referensi yang diterbitkan oleh NSA, NIST dan referensi yang berhubungan dengan program keamanan informasi tersebut.
Alasan kenapa program ini dibuka pada level magister dijawab oleh Yudhi, “kami melihat lebih pada konseptual, dimana level strata satu lebih mendasar dan tidak mengerucut pada suatu keahlian tertentu” ungkapnya.
Menutup wawancara Yudhi menyampaikan pendapat dan harapannya mengenai perkembangan kurikulum dibidang keamanan informasi, “Perubahan kurikulum sebaiknya jangan dilakukan setiap 5 tahun, kita selalu melakukan improvement,” ditambahkan lagi olehnya, “Pendidikan di ITB saat ini bergantung pada permintaan dari luar, oleh karena itu bila ada masukan-masukan dari pihak lain akan menjadi pertimbangan dalam menyusun kurikulum kami.”
Disalin dari CISO Magazine September 2013