Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Pendidikan Keamanan Informasi di UI

22 Nov 2013


Universitas Indonesia adalah universitas yang berada di Ibukota negara, dan merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Institusi pendidikan yang telah bergerak dari tahun 1950 ini digadang-gadang akan meluncurkan program studi baru, yaitu program di bidang IT Security. Program studi yang sebenarnya telah dimulai pendaftaran mahasiswanya ini, merupakan program studi yang tak banyak dijumpai pada institusi pendidikan lainnya di Indonesia. Oleh karena itu Universitas Indonesia menanggapi tantangan tersebut dengan mencetuskan program ini, karena selain merupakan program baru, keamanan informasi (IT Security) merupakan tren yang terus berkembang saat ini, dan memiliki kebutuhan pasar yang tinggi. Salah satu Universitas yang ditemui CISO Magazine dalam membahas perkembangan pendidikan keamanan informasi di Indonesia adalah Universitas Indonesia. Sebagai universitas dengan tingkat akreditasi mumpuni dan berpengalaman di Indonesia, UI sendiri telah melakukan perekrutan mahasiswa pada program studi barunya yaitu Keamanan Informasi dan Jaringan. Untuk mengetahui “apa dan bagaimana” Universitas bergengsi ini membangun program tersebut, maka CISO Magazine akan mengulasnya melalui hasil wawancara dengan salah satu perwakilan Universitas Indonesia yang termasuk salah satu penggagas program baru tersebut yaitu, Prof. Dr-Ing. Kalamullah Ramli, M.Eng sebagai narasumber yang akan membahas pencanangan program studi keamanan informasi dan jaringan, terkait dengan perkembangan pendidikan keamanan informasi di Indonesia.

Ditemui di tempat kerjanya, Prof. Dr-Ing.Kalamullah Ramli, M.Eng, Ketua Program Magister IT Security Fakultas Teknik Elektro UI menjelaskan dalam wawancara terkait dengan gagasan program studi IT Security di Universitas Indonesia yang merupakan inisiatifnya sendiri karena dengan pengalaman beliau, yang telah paham “asam garam” bidang ini, dan atas kesadaran bahwa di Indonesia belum ada gelar formal di bidang tersebut. Selain itu, gagasan mendirikan program IT Security ini muncul ketika beliau bersama ID-SIRTII, dan melihat fasilitas yang dimiliki oleh ID-SIRTII, tenaga-tenaga handalnya, ungkap pria yang juga menjabat sebagai staf ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Teknologi. Sehingga dapat dikatakan bahwa, program ini merupakan kolaborasi antara ID-SIRTII dan Fakultas Elekto UI. Prof. Muli sapaan akrabnya mengungkapkan, “jadi idenya itu mengawinkan ID-SIRTII dengan elektro UI”. Program studi IT Security yang berada di bawah Fakultas Teknik Elektro UI, akan menggabungkan dua sisi konsentrasi ilmu baik dari sisi teknik dan juga sisi manajemen, dalam penjelasannya Prof Muli juga menerangkan perbedaan tingkatan, mengapa program ini dilaksanakan pada jenjang magister, karena didalam program ini tidak hanya di segi teknis, tapi juga berkecimpung ditataran manajemen, regulasi dan kebijakan, jelasnya. Keyakinan akan program ini dikarenakan dengan kesadaran terhadap kebutuhan yang besar saat ini, sementara kesadaran akan keamanan di Indonesia sendiri belum memadai. Berdasarkan hitungan sederhana, Prof Muli memperkirakan akan ada sekitar 2960 kebutuhan tenaga keamanan informasi di Indonesia. Itu pun masih di dalam ruang lingkup pemerintahan, dan BUMN, belum lagi memperhitungkan kebutuhan dari lingkup swasta dan industri.
Untuk mendukung Fakultas Teknik Elektro UI menelurkan lulusan berkualitas tinggi, maka kerjasama dengan pihak-pihak lain yang berkompeten sangat dibutuhkan. Selain kerjasama yang telah terjalin antara Fakultas Teknik Elektro UI dan ID- SIRTII, kolaborasi lainnya adalah dengan praktisi dan akademisi Jepang. Salah satunya adalah dengan Profesor Ken Umeno yang disebutkan memiliki paten di bidang keamanan informasi dan juga sebagai salah satu penemu “chaos theory” untuk pengamanan CDMA network dan WiMAX. Sebelumnya Profesor Umeno sendiri banyak memberikan kontribusinya pada UI dengan membimbing mahasiswa- mahasiswa berprestasi tersebut.
Sementara itu, ketika ditanyakan tentang kurikulum atau acuan yang akan digunakan sebagai standar program studi keamanan informasi, dijelaskan bahwa dalam menetapkannya (kurikulum) lebih banyak membandingkan dengan standar-standar yang sedang berkembang di dunia. Selain itu dasar acuan lain yang digunakan ialah dengan melihat kebutuhan lokal di Indonesia. Maksud dari penetapan acuan ini bertujuan untuk lebih mengikuti perkembangan masalah kea-manan yang sifatnya dinamis, sehingga lulusan program ini diharap-kan dapat bersaing dengan sumberdaya lain di luar sana. Karena belum ada pakem kurikulum untuk program yang baru berkembang di Indonesia ini, sehingga mungkin nantinya UI akan melakukan komunikasi dengan institusi pendidikan lain di Indonesia yang membuka program serupa. Yang jelas dalam program ini akan ada pendalaman di bidang matematika, infrastruktur jaringan informasi, dan keamanan jaringan informasi. serta manajemen regulasi keamanan informasi, manajemen risiko, penanganan bencana,
digital forensic dan jaringan, juga keamanan aplikasi dan jaringan bergerak (mobile security).
Terlihat beberapa universitas lebih tertarik untuk membuka program keamanan informasi ini di level magister, begitu pula dengan UI. Prof. Muli beralasan bahwa terlalu dini jika program ini diadakan pada level strata satu. keamanan sendiri sudah sangat tajam dalam profesi sehingga lebih cocok untuk program magister. Selain itu demi tujuan menghasilkan lulusan yang memiliki visi teknik dan manajemen secara seimbang, maka dibutuhkan kemampuan yang lebih tinggi tingkatnya dibandingkan dengan level sarjana (S1).
Program ini memakan waktu 6 bulan dalam perencanaannya. Di dalam perencanaan tersebut selain
menyusun kurikulum dan melakukan perbandingan, dilakukan pula diskusi dengan beberapa pihak diantaranya adalah dengan pihak ID-SIRTII dan juga dengan pihak Kepolisian. Prof. Muli melihat adanya antusiasme yang besar ditunjukkan oleh banyak pihak dengan mendukung penuh pencanangan program keamanan informasi tersebut.
Oleh karena itu program tersebut “dikejar” untuk dibuka pada tahun ini dengan alasan mengejar momentum, karena perkembangan teknologi yang begitu cepat dan berdampak pada risiko keamanannya yang meningkat.
Pendaftaran yang telah dilaksanakan dalam waktu satu bulan lalu (Juli 2013), dengan target peserta para profesional dan birokrat. Hingga kini itu peserta yang mendaftar berjumlah 15 orang. Namun dengan adanya seleksi ketat oleh pihak UI pendaftar yang lolos masuk disaring sehingga berjumlah 7 orang. Ini merupakan kebijakan kampus yang tidak bisa diganggu gugat, padahal harapan Prof. Muli pada awal program ini jumlah peserta bisa mencapai 10 orang. Persyaratan umum untuk mendaftar program ini diantaranya adalah lulus ujian masuk, dan berasal dari latar belakang keilmuan teknik informatika, matematika atau MIPA. Kegiatan belajar mengajar sendiri akan ber-tempat di kampus UI Salemba, dengan alasan kampus ini berada di pusat kota sehingga lebih mudah dijangkau bagi peserta profesional yang berkantor di pusat area bisnis Jakarta.
We have to start” kata Prof. Muli dengan semangat, karena dirasakan olehnya kebutuhan dan ancaman di bidang cyber ini “real” - menanggapi perkembangan pendidikan keamanan informasi di Indonesia. Lalu beliau juga mengomentari bagaimana Indonesia akan membutuhkan tenaga keamanan yang luar biasa besar berkaitan dengan tingginya celah keamanan dan masyarakat Indonesia sendiri belum terbangun kesadarannya untuk hal ini.
Disalin dari CISO Magazine September 2013