Laskar Informasi

Pencarian Daftar Isi

Kilas Sejarah Munculnya Syi'ah

16 Nov 2013


Sejarah Syi'ah
Ada yang menganggap syi'ah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuma. Pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, yang berakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan umat agar Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat sebagai khalifah. Tampaknya pendapat yang paling populer adalah bahwa syi'ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan khalifah Ali dengan pihak Mu'awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu anhu di Siffin yang lazim disebut sebagai peristiwa at Tahkim (arbitrasi). Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali. Mereka ini disebut golongan khawarij(orang-orang yang keluardari barisan Ali).Sebagian besar orang tetap setia kepada khalifah disebut syi'ah Ali (pengikut Ali).

Istilah syi'ah pada era kekhaliahan Ali hanyalah bermakna pembelaan dan dukungan politik. Syi'ah Ali yang muncul pertama kali pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiyallah anhu bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak Mu'awiyah, dan hanya bersifat kultural, bukan bercorak akidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya hingga sekarang.Sebab kelompok setia Syi'ah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar tabi'in pada saat itu tidak ada yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasul daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab radhiyallahu anhuma. Bahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sendiri, saat menjadi khalifah, menegaskan dari atas mimbar Masjid Kuffah ketika berkhutbah bahwa, “Sebaik-baik umat Islam setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma.” Demikian pula jawaban beliau ketika ditanya oleh putranya yaitu Muhammad ibn Al Hanafiah seperti yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahih-nya hadits no.3671.
Menurut Murtadha Muthahhari salah seorang ulama syi'ah, “Ali bin Abi Tahliab adalah sahabat Nabi seperti juga Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan yang lainnya. Tetapi Ali lebih berhak, lebih terdidik, lebih shaleh dan lebih berkemampuan ketimbang para sahabat lainnya, dan bahwa Nabi sudah merencanakannya sebagai pengganti beliau. Kaum syiah meyakini Ali dan keturunannya sebagai imam yang berhak atas kepemimpinan politis da otoritas keagamaan.” Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa yang berhak atas otoritas spiritual dan politis dalam komunitas Islam pasca Nabi adalah Ali beserta keturunannya.
Sedangkan menurut Thabathabai, syi'ah muncul karena kritik dan protes terhadap 2 masalah dalam Islam, yaitu berkenaan dengan pemerintahan Islam dan kewenangan dalam pengetahuan keagamaan yang menurut syi'ah menjadi hak istimewa ahlul bait.
Kendatipun persoalan imamah menjadi pokok keimanan syi'ah, tetapi ternyata telah terjadi perbedaan dan perselisihan di kalangan firqah-firqah syi'ah, terutama pada penentuan siapakah yang menjadi “imam”. Al Hasan bin Musa An Naubakhti, ulama syi'ah yang hidup pada pertengahan abad ke-3 hingga 4 hijriyah, dalam kitab Firaq Asy Syi'ahhal.19-109 telah menjelaskan perbedaan-perbedaan itu dalam beberapa bentangan periodik. Dianataranya, setelah Ali bin Abi Thalib wafat, menurut An Naubakhti, syi'ah terpecah menjadi 3 golongan:
Pertama, kelompok yang berpendapat Ali tidak mati terbunuh dan tidak akan mati sehingga ia berhasil menegakkan keadilan di dunia. Inilah kelompok ekstrim (ghuluw) pertama. Kelompok ini disebut Syi'ah As Saba'iyah yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba'. Mereka adalah kelompok yang terang-terangan mencaci serta berlepas diri (bara'ah) dari Abu Bakar, Umar dan Utsman serta para sahabat Rasulullah. Mereka mengaku Ali lah yang menyuruh mereka untuk melakukan hal ini. Ketika dipanggil oleh Ali mereka mengakui perbuatannya. Hampir saja Ali memvonis mati terhadap Abdullah bin Saba'. Tetapi karena pertimbangan beberapa orang, shingga Ali hanya mengusir Abullah bi Saba' ke Al Madain.
Menurut An Naubakhti, Abdullah bin Saba' asalnya beragama yahudi. Ketika masuk Islam ia mendukung Ali. Dia lah orang pertama yang terang-terangan mengisukan kewajiban iamamahnya Ali serta berlepas diri (bara'ah) dari musuh-musuhnya. Dijelaskan pula, bahwa ketika Abdullah bin Saba' masih beragama Yahudi pernah mempopulerkan penpadat bahwa Yusa' bin Nun adalah pelanjut Nabi Musa. Maka ketika masuk Islam, ia pun berpendapat bahwa Ali adalah pelanjut Nabi Muhammad. Faktor inilah yang membuat orang menuduh bahwa sumber ajaran syi'ah berasal dari Yahudi.
Penjelasan An Naubakhti ini sekaligus merupakan jawaban terhadap kalangan syi'ah serta pendukungnya, yang mengklaim bahwa Abdullah bin Saba' hanya tokoh fiktif.
Kedua, kelompok yang berpendapat, imam pengganti sesudah Ali bin Abi Thalib adalah puteranya, Muhammad bin Al Hanafiah, karena dia yang dipercaya membawa panji ayahnya, Aali, dalam peperangan di Bashrah. Mereka mengkafirkan siapapun yang melangkahi Ali dalam imamah, juga mengkafirkan ahlus shiffin, ahlu jamal. Kelompok ini disebut Al Kaisaniyyah.
Ketiga, kelompok ini berkeyakinan bahwa setelah Ali wafat, imam sesudahnya adalah puteranya Al Hasan. Ketika Al Hasan menyerahkan khilafah kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, mereka memindahkan imamah kepada Al Husain, sebagian mereka mencela Al Hasan, bahkan Al Jarrah bin Sinan Al Anshari pernah menuduhnya sebagai musyrik.
Tetapi sebagian syi'ah berpendapat bahwa sesudah wafat Al Hasan, maka yang menjadi imam adalah Al Hasan bin Al Hasan yang bergelar Ar Ridha dari keluarga Muhammad.menurut Al Isfahani, dia bersama Ali bin Al Husain Zainal Abidin serta Umar bin Al Hasan dan Zaid bin Al Hasan adalah cucu-cucu Ali bin Abi Thalib yang menyertai Al Husain dalam peristiwa Karbala dan selamat dari pembunuhan. Fakta historis in sekaligus membantah informasi yang menyebutkan bahwa satu-satunya keturunan laki-laki Rasulullah shallallahu alaihi wasallam atau keturunan laki-laki Ali yang selamat dari pembantaian Karbala hanyalah Ali bin Al Husain Zainal Abidin saja.
Fakta historis tentang adanya perbedaan pendapat bahkan perselisihan internal syi'ah pada setiap level imam ini, selain disebutkan oleh kalangan syi'ah sendiri (An Naubakhti) juga disebutkan oleh Fakhruddin Ar Razi. Beliau menulis, “Ketahuilah bahwa adanya perbedaan yang sangat besar seperti tersebut di atas, merupakan bukti konkret tetang tidak adanya wasiaat teks penunjukan yang jelas dan berjumlah banyak tentang Imam yang dua belas seperti yang mereka klaim itu.”
selain adanya kecenderungan berselisih di antara sesama syi'ah dalam menentukan imam, mereka juga saling mengkafirkan, serta adanya kecenderungan memberontak (khuruj). Abu Hasan Al Asy'ari juga mencatat bahwa banyaknya perselisihan internal syi;ah itu memunculkan 3 firqah syi'ah yang besar yang menyempal ke dalam 45 firqah.
Menurut Musa Al Musawi, salah seorang tokoh syi;ah kontemporer, terjadinya penyimpangan dalam ideologi syi'ah karena munculnya klaim bahwa khalifah sesudah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Ali bin Abi Thalib berdasarkan nash Ilahi, dan bahwa para sahabat, kecuali sedikit saja telah menyalahi nash ilahi ketika membai'at Abu Bakar. Juga munculnya ideologi bahwa iman terhadap imamah, seperti dalam konsep syi'ah its'na asyariyah adalah penyempurna Islam, ini semua terjadi sesudah diumumkannya Al Ghaibah Al Kubra(kegaiban permanen) dari imam ke-12 syi'ah itsna asyariyah.
Sampai dewasa ini, syi'ah itsna asyariyah (yang mempercayai 12 imam) merupakan aliran terbesar syi'ah. Aliran ini meyakini bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam telah menetapkan 12 orang imam sebagai penerusnya, yaitu:
  1. Ali bin Abi Thalib, wafat 41 H / 661 M
  2. Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, wafat 49 H / 669 M
  3. Al Husain bin Ali bin Abi Thalib, wafat 61 H / 680 M
  4. Ali bin Al Husain Zainal Abidin, wafat 94 H / 712 M
  5. Muhammad bin Ali Al Baqir, wafat 113 H / 731 M
  6. Ja'far bin Muhammad Ash Shadiq, wafat 146 H / 765 M
  7. Musa bin Ja'far Al Kazhim, wafat antara 128 H – 203 H
  8. Ali bin Musa Ar Ridha, wafat 203 H / 818 M
  9. Muhammad bin Ali Al Jawwad, wafat 221 H / 835 M
  10. Ali bin Muhammad Al Hadi, wafat 254 H / 868 M
  11. Al Hasan bin Ali Al Askari, wafat 261 H / 874 M
  12. Muhammad bin Al Hasan Al Mahdi Al Muntazar

Sumber : Majelis Ulama Indonesia, Panduan Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia